WISATA “JAS MERAH” DI KOTA BANDUNG

Categories: Bandung UPDATE

bandungadvertiser.com – Jika anda berkeliling di Kota Bandung, maka sebaiknya anda tidak hanya berlama-lama di daerah Dago Pakar saja. Bila artikel sebelumnya kami membahas tentang kawasan tersebut, maka sekarang kami akan bergeser ke bawah, tepatnya di daerah Dipati Ukur. Nah, sebenarnya, tempat apa sih yang bisa anda kunjungi di tempat ini?

Apabila berbicara tentang DU atau Dipati Ukur, kawasan ini memiliki banyak sekali varian wisata kuliner di sepanjang jalan. Letaknya yang berdekatan dengan perguruan tinggi, menjadikan DU sebagai salah satu market bagi para pengusaha di bidang makanan. Namun, bila terus mengikuti jalan ini, anda pun akan disuguhkan dengan sebuah monumen bersejarah yang menjadi salah satu ikon kebanggaan kota Bandung.

Namanya adalah Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, sebuah tempat yang memiliki nilai sejarah yang sangat panjang.

Penasaran dengan ulasannya? Mari kita ulas di sini.

WISATA “JAS MERAH” DI KOTA BANDUNG

Monumen Perjuangan Rakyat

Nama lain dari tempat megah ini biasa juga disebut dengan “Monju” singkatan dari Monumen Perjuangan.

Monumen Perjuangan Rakyat berada di Jalan Dipatiukur No. 48 Kota Bandung. Letak tempatnya pun sengaja dibuat berhadap-hadapan dengan Gedung Sate. Luas tanah yang digunakan oleh bangunan ini berukuran seluas 72.040 meter persegi, untuk luas bangunan pun kurang lebih berukuran 2.143 meter persegi.

Bentuk bangunan Monumen Perjuangan sendiri menyerupai sebuah bambu runcing yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern, ditambah dengan lambang negara Indonesia, yakni Pancasila di tengahnya. Peresmian dari tempat bersejarah ini dilakukan oleh R. Nuriana pada tanggal 23 Agustus 1995.

WISATA “JAS MERAH” DI KOTA BANDUNG

Menurut salah satu sumber informasi, dikatakan bahwa pada setiap dinding bangunan terdapat sebuah relief yang menceritakan kisah heroik dari para pejuang rakyat di Jawa Barat. Ada pula sebuah prasasti berbahasa Sunda yang menceritakan tentang Jawa Barat.

baca juga 58 % Orang Masih Meragukan Pemkot Bandung

Tepat pada monumen perjuangan, dibangun ruang bawah tanah yang merupakan bagian dari monumen utama. Biaya masuk ke sini pun gratis. Para pengunjung umumnya menggunakan jalan dari belakang monumen karena pintu depannya yang jarang sekali dibuka.

Pada hari Minggu pun biasanya menjadi hari terbaik untuk datang ke tempat ini sebab di depan monumen sering ada pasar minggu yang menjual barang-barang dengan harga yang sangat miring.

Cerita sisi lain dari tempat ini mengatakan bahwa Monumen Perjuangan sering pula digunakan sebagai tempat penyelenggaraan event hiburan, titik kumpul masa aksi yang akan melakukan tuntutan di Gedung Sate, sampai pada titik sentral kumpulan komunitas yang ada di Kota Bandung.

WISATA “JAS MERAH” DI KOTA BANDUNG Di depan monumen terdapat salah satu taman kota yang indah dan segar, nan tentu sangat cocok untuk anda menenangkan diri, atau pun berolahraga di sore hari.

Banyak sekali aktivitas yang biasanya dilakukan oleh warga Bandung di Taman Monumen Perjuangan, mulai dari: berolahraga pada pagi dan sore hari, perkumpulan komunitas, bermain skateboard, berburu foto, dan lain-lain.

Di sekitaran monumen sendiri sering dilakukan atraksi motor, sampai latihan marching band, menari, dan mini soccer.

Relief di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Seperti yang dijelaskan di atas bahwasanya bangun ini memiliki sebuah relief yang menceritakan bagaimana rakyat Jawa Barat berjibaku melawan penjajah di masa lalu.

Menurut salah satu pengunjung, Bambang Aroengbintang, dalam lini masa website nya menuturkan bahwa salah satu relief yang berada di Monumen Perjuangan Rakyat ini menceritakan tentang Sakola Istri, yakni sekolah khusus perempuan pertama se-Hindia Belanda yang berdiri pada tanggal 16 Januari 1905 dan diprakarsai oleh salah satu tokoh kebanggaan Kota Kembang, yaitu Dewi Sartika.

Diceritakan pula bahwa Sakola Istri hanya dimulai dengan tiga orang tenaga pengajar atau guru, yang terdiri dari; Dewi Sartika, Ny. Poerwa dan Ny. Pewid. Murid mereka pun berisi sekitar 20 orang saja waktu itu. tempat yang mereka gunakan pun yakni di pendopo Kabupaten Bandung.

Berdasarkan catatan sejarah, Dewi Sartika adalah salah satu tokoh yang merintis pendidikan bagi kaum perempuan, nan lahir di Bandung 4 Desember 1884. Ia tutup usia pada tahun 1966 di Tasikmalaya. Gelar Pahlawan Nasional pun Ia peroleh pada tahun 1966.

Perihal Prasasti yang ada di Monumen Perjuangan Rakyat Jabar ini berupa sebuah puisi yang dikarang oleh seorang sastrawan dari tanah pasundan, yakni Saini KM. Beliau lahir di Sumedang, dan beliau pun adalah seorang penulis esai, naskah teater, dan puisi. Ia dianugerahi banyak penghargaan, dan Ia pun salah satu pendiri dari ASTI Bandung atau sekarang dikenal dengan ISBI (Institut Seni dan Budaya Indonesia).

Bambang pun menuliskan salah satu Diorama yang berada di tempat ini, yakni tentang peristiwa Bandung Lautan Api pada bulan Maret 1946, yang terjadi selama kurang-lebih 7 jam, di mana sekitar 200.000 penduduk Bandung Selatan berbondong-bondong membakar rumah dan bangunan penting di sekitaran rel kereta api dari Ujung Berung sampai Cimahi, guna membuat tentara sekutu dan NICA tidak menggunakan dan menginjakkan kaki di tempat ini.

Begitulah cerita ulasan tentang Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat di Bandung, yang bisa menjadi salah satu destinasi wisata pilihan anda.

Ingat! Bung Karno pernah berkata tentang JAS MERAH yang berarti Jangan Sesekali Melupakan Sejarah.

Jadi dengan berkunjung ke tempat ini, bararti anda turur merawat sejarah Indononesia.