bandungadvertiser.com – Kreativitas merupakan harga mati bagi pengusaha UKM untuk mengarungi persaingan bisnis

Apabila suatu produk keluaran UKM tidak memiliki nilai diferensiasi dengan bisnis lainnya maka sulit sekali untuk menarik perhatian calon pembeli.

Di Indonesia sendiri banyak bertebaran para pelaku usaha UKM yang benar-benar mengedepankan kreativitas untuk menyokong bisnisnya.

Salah satunya adalah pemuda bernama Nurman Ramdhany yang memanfaatkan ceker ayam untuk bahan pembuatan sepatu.

Ceker ayam sendiri biasanya identik dengan olahan ayam yang dikonsumsi oleh manusia.

Menurut Nurman, salah satu alasan penggunaan ceker ayam sebagai bahan baku usaha sepatunya karena mudah untuk ditemukan.

Dengan mengusung merek Hirka, Nurman mempelopori bisnis ukm sepatu pertama yang berasal dari ceker ayam.

Keprihatinan Akan Hewan Reptil

Ide Nurman untuk menggunakan ceker ayam sebagai bahan sepatu berawal dari keprihatinannya terhadap penggunaan kulit hewan reptil sebagai bahan dasar.

Beberapa barang gaya seperti sepatu dan tas berbahan kulit hewan reptil seperti ular dan buaya memang sudah lazim di dunia mode.

Namun penggunaan kulit hewan sebagai bahan dasar ini mengancam populasi dari hewan-hewan reptil tersebut.

Seperti data yang dikemukakan oleh CITES, bahwa pada tahun 2008 hingga tahun 2017 terdapat lebih dari 10 juta kulit hewan reptil yang diimpor sebagai bahan baku.

Nurman pun mengaku bahwa ia mendapat banyak inspirasi dari sang ayah yang merupakan lulusan Politeknik Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta.

Ayah Nurman lah yang sebetulnya sudah pernah merancang riset untuk menggunakan kulit ceker untuk produksi sepatu yang kemudian urung diselesaikan.

Akhirnya setelah melewati proses riset yang cukup panjang, Nurman memutuskan menggunakan kulit ceker ayam yang teksturnya mirip dengan kulit buaya.

Pillihan Nurman terhadap bahan kulit ceker ayam juga menguntungkan dari segi siklus bisnis, karena bahan baku bisa ia dapatkan cukup dengan meminta kepada restoran cepat saji.

Ceker ayam pun juga memiliki kelebihan lain berupa tekstur yang variatif sehingga mudah untuk mengaplikasikan kreativitas dalam setiap produk.

Biaya Pembuatan Mahal

Meski dari segi ketersediaan sangat melimpah, pembuatan sepatu dari ceker ayam tidaklah memakan biaya yang sedikit.

Ceker ayam yang bisa digunakan sebagai bahan baku pun harus memiliki kriteria tertentu seperti harus berasal dari ayam yang memiliki berat minimal 2 kg.

Untuk mewujudkan produk sepatu ceker ayam buatannya, Nurman bahkan harus memproduksi dan menjual sepatu dengan bahan awal kanvas sebagai modal pengembangan.

Hingga akhirnya Nurman berhasil menjual sepatu ceker ayam pertamanyapada tahun 2017 dalam ajang INACRAFT.

Kesulitan pengembangan produk dari ceker ayam sudah terlihat sejak proses penyamakan kulit.

Penyamakan dilakukan dengan bahan-bahan yang tergolong hanya diizinkan untuk industri besar.

Kulit ceker ayam yang belum elastis harus disamak hingga 2 minggu lamanya sebelum siap menjadi bahan sepatu.

baca juga

Nurman Ramadhany Pebisns UKM Sepatu dari Ceker Ayam

Selain itu proses produksi juga sama sekali tidak menggunakan mesin karena belum ada mesin yang bisa melakukan proses press terhadap bahan kulit ceker ayam.

Semua proses mulai dari penjahitan, pemotongan bagian upper, serta pembuatan outsole dilakukan oleh Nurman beserta dengan para asistennya.

Akibat proses yang memakan waktu panjang, dalam waktu satu minggu Nurman baru bisa menyanggupi satu hingga dua pasang sepatu berbahan ceker ini.

Harga sepatu ceker ayam ini sendiri dapat mencapai harga mulai dari 500 ribu hingga 2 juta rupiah perpasangnya.

Dengan harga ini, Nurman menjanjiikan bahwa sepatu ceker ayam ini tidak kalah dalam hal kelenturan dan daya tahan dari produk dari kulit hewan reptil.

Keteguhannya untuk menjajakan sepatu berbahan ceker ayam pun mengantarnya meraih omzet minimal 60 juta perbulannya.

baca juga

    Penghargaan atas Hirka

    Membangun UKM dari nol, Nurman tidak melupakan esensi penciptaan lapangan pekerjaan dalam bisnis yang dilakukannya.

    Hingga sekarang, Nurman sudah mempekerjakan 4 orang dari sekitar rumahnya yang bisa bertambah seiring perkembangan usaha.

    Berkat inovasi dan kegigihannya untuk memproduksi sepatu yang berasal dari kulit ceker ayam, ia mendapat ganjaran berupa berbagai penghargaan.

    Penghargaan pertama yang didapatkan oleh Nurman dan Hirka adalah ketika memenangi Desain Produk Terbaik dari Pemerintah Kota Bandung.

    baca juga

      Selain dalam penghargaan soal desain, Nurman juga sudah kenyang mendapat penghargaan untuk kategori entrepreneurship.

      Beberapa penghargaan kewirausahaan yang sudah diraih Nurman antara lain menjadi langganan finalis 100 besar di BliBli Competition, juara 2 UMKM di Festival Pesona Lokal, hingga Astra Satu Indonesia Awards pada tahun ini.

      Nurman mengaku banyak mengikuti kontestasi wirausaha untuk banyak bertukar ilmu dengan pengusaha lain.

      Penghargaan tersebut rupanya berdampak besar, termasuk kepada angka penjualan sepatu Hirka miik Nurman.

      Seperti angka penjualannya yang naik 100% serta produknya yang semakin dikenal oleh kalangan pecinta sepatu di tanah air mulai dari Aceh hingga Kalimantan.

      Produknya pun juga sudah mampu melakukan penetrasi di luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Hongkong, Brasil, hingga Perancis.

      baca juga

      Rencana ke Depan

      Selain memproduksi sepatu, Nurman bersama dengan tim Hirka juga berencana untuk membuat produk mode lain seperti dompet hingga gantungan kunci.

      Dirinya juga berniat untuk menjalin kemitraan baik dengan pebisnis dalam maupun dari luar negeri.

      Namun Nurman juga mengaku akan tetap selektif dalam memilih partner karena berkaitan dengan bagaimana skema kerjasama akan dijalankan.

      Nurman mengaku pernah mendapat tawaran dari sebuah merek asal Singapura yang mengajaknya bisnis bersama namun hanya sebagai produsen dari brand tersebut.

      Tawaran tersebut ditolak oleh Nurman yang mengatakan bahwa ia ingin mengembangkan brand milliknya sendiri.

      You May Also Like