undercover.co.id – Membuka suatu usaha atau bisnis bukanlah keputusan yang mudah. Beberapa orang yang sudah memiliki pekerjaan tetap, akan sering dilanda kebosanan karena rutinitas yang sama setiap harinya. Juga, karena faktor penghasilan yang tidak mengalami peningkatan.

Hal itulah yang dirasakan Agus Lambang, seorang pengusaha asal Gunungkidul, Yogyakarta. Sebelum menjadi pengusaha, ia adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan pembiayaan kendaraan.

Ia telah bekerja selama 13 tahun di perusahaan tersebut. Tidak mudah baginya untuk memutuskan menjadi pengusaha dan keluar dari pekerjaan yang telah ia geluti selama itu.

Namun, berbekal keberanian laki-laki yang sering disapa Pak Lambang tersebut membuka usaha kuliner di Gunungkidul.

 

 

Pariwisata dan Makanan Tradisional Gunungkidul

Dari pengamatannya, Lambang melihat adanya peluang bisnis pada sektor pariwisata Gunungkidul.
Ada banyak wisatawan yang datang ke Gunungkidul setiap minggunya, karenanya setiap usaha yang dibangun di Gunungkidul pasti memiliki prospek yang bagus.

Sebagai pemula, ia membuka usaha kuliner kecil. Alih-alih memilih makanan berat atau makanan populer lainnya, ia memilih makanan tradisional untuk dijual.

Ia menjalankan usaha tersebut bersama istrinya, yang juga memilih keluar dari profesi kasir di sebuah toko pakaian besar.

 

Tiwul dan Gatot

Awalnya, Lambang hanya menjual gorengan sambil bekerja. Karena merasa kurang puas, lalu ia menjual makanan tradisional khas Gunungkidul yakni tiwul dan gatot.
Penjualan pertamanya adalah tiwul dan gatot yang dijual dalam bungkusan kecil dan dititipkan ke penjual di pasar.

 

Tiwul dan gatot yang dijual pun adalah versi original yang hanya dicampur dengan gula jawa. Baru setelah keluar dari pekerjaannya, ia lebih serius menggeluti usaha kuliner makanan tradisional yang diberi nama Toko Oleh-oleh Gatot dan Tiwul Pak Lambang.

 

 

 

Varian Rasa dan Strategi Penjualan

Memulai bisnis kecilnya, Lambang hanya bermodal tanah sepetak yang terletak di pinggir jalan utama menuju pantai.

Dari rasa original gula jawa, ia mencoba bereksperimen dengan membuat tirul aneka rasa, seperti tiwul nangka, tiwul keju, tiwul pandan, tiwul kopi, hingga tiwul coklat.

Laki-laki lulusan D2 Pariwisata ini pun berhasil mempopulerkan tiwul dan gatot buatannya. Meski tergolong usaha baru, ia tetap berusaha mengembangkan usahanya dengan berbagai strategi.

Karena sebelumnya sudah berpengalaman di bidang marketing, ia tidak merasa kesulitan dalam memasarkan produknya. Dengan menyebarkan brosur dan menandai lokasi usahanya di Google Maps ia berhasil mendatangkan lebih banyak konsumen.

Selain itu, dalam penyajian tiwul dan gatot, ia memiliki strategi tersendiri untuk memuaskan konsumen, yaitu dengan sistem made by order.

Tiwul dan gatot buatannya hanya dibuat ketika ada pesanan, sehingga calon pembelinya harus menunggu beberapa saat. Meski begitu, tentu tiwulnya akan tersaji dalam keadaaan hangat dan rasanya pun terjamin kenikmatannya.

 

baca juga

1000.001 Ide Bisnis UKM Dengan Modal Mulai 100 Ribu

123 Cara Meningkatkan Omzet Penjualan

Panduan Bisnis Online Terlengkap

5 Bisnis Modal Kecil

 

Untuk memenuhi keinginan konsumen yang ingin membawa tiwul dan gatot sebagai oleh-oleh, ia membuat tiwul dan gatot dalam bentuk instan tanpa pengawet yang tahan dalam waktu 24 jam.

Setiap harinya, tiwul dan gatot bisa terjual puluhan box, dan ratusan box pada akhir pekan. Dengan harga Rp 12.000,- per box untuk rasa original dan Rp 15.000,- untuk rasa lainnya, Lambang dan istrinya berhasil meraup untung hingga puluhan juta rupiah setiap bulan.

You May Also Like