https://www.undercover.co.id – Rumah mewah dengan taman yang indah, serta mobil impor berharga milyaran menjadi hal kecil yang dimiliki Gusti Ngurah Anom atau yang lebih dikenal dengan Ajik Cok.

Siapa sangka pria yang dijuluki raja bisnis oleh-oleh Bali itu hanyalah lulusan SMP dan pernah bekerja sebagai tukang cuci mobil di hotel.

Kisah kehidupan Ajik begitu menginspirasi para pemuda yang ingin memulai bisnis. Bukan cerita singkat tentang bagaimana kerja kerasnya dari titik nol hingga menjadi bos besar di bisnis oleh-oleh.

Dari seorang perantau yang tak punya tempat tinggal dan pekerjaan, kini ia mempekerjakan dan memberikan kesejahteraan bagi banyak orang.

Kisah Pilu Mendatangkan Berkah Bisnis Ajik Cok

Ajik lahir di tengah keluarga petani miskin. Tak adanya biaya membuat pria asal Buleleng itu putus sekolah saat masih duduk di sekolah menengah kejuruan. Karena kecewa, ia pun pergi dari rumah dengan menumpang sebuah truk. Tak tahu ke mana arah dan tujuan, Ajik terlunta-lunta di Kota Sanur tanpa bekal, uang dan keahlian.

Ia memutuskan beristirahat di sebuah pos satpam sebuah hotel. Di sana ia kemudian membersihkan taman hotel dan memunguti sampah yang berserakan. Karena kegigihannya, akhirnya ia pun diizinkan tinggal di pos  satpam dengan syarat ikut menjaga keamanan hotel dan kebersihan taman.

Ajik kemudian giat mencuci mobil pemilik hotel lalu membuka jasa cuci mobil para tamu hotel. Dari sanalah ia mendapat uang untuk makan. Pekerjaan menjadi tukang cuci mobil pun dilakoni Ajik hingga 2 tahun lamanya. Ia mungkin akan terus bekerja sebagai tukang cuci jika penyakit rematik akut tak menyerangnya.

Karena sakit, Ajik tak mampu lagi menjadi tukang cuci. Pergilah ia meminta bantuan seorang paman yang membuka usaha konveksi kecil-kecilan. Saat tinggal bersama pamannya, Ajik membantu usaha sang paman tanpa diupah.

Hingga kemudian ia berinisiatif menemui  pemilik usaha konveksi besar bernama Sidharta yang sering kali memberi pekerjaan pada konveksi pamannya.

Dari Tukang Cuci Mobil Menjadi Milyader, Ajik Cok Membangun Krisna Bali Melihat kesungguhan Ajik, Sidharta pun menjadikannya sebagai pegawai yang bertugas di lapangan. Dari perusahaan konveksi inilah Ajik meraup pengalaman yang menjadi modal utama untuk membuka usaha sendiri kelak.

Berawal Dari Usaha Konveksi

Tahun 90-an, Ajik memberanikan diri keluar dari pekerjaannya di Sidharta Konveksi, kemudian membuka usaha konveksi sendiri bersama istrinya. Cok Konveksi, demikian ia menamai usahanya. Bermodalkan 30 juta, Ajik membuka usaha tersebut.

Tahun demi tahun, usaha konveksinya itu makin besar. Dengan semangat, kerja keras dan menerapkan ilmu yang ia dapatkan dari Pak Sidharta, Ajik sukses menjadi wirausahawan meski usianya masih muda. Pada tahun 2000an, usaha konveksinya menuju puncak hingga menjadi salah satu konveksi terbesar di Bali.

Ajik memproduksi kaos yang disasarkan pada wisatawan Bali. Menurutnya, kaos adalah oleh-oleh yang sangat dicari wisatawan. Ia pun kemudian berpikir untuk melebarkan sayap dengan menjual oleh-oleh. “Saya yakin oleh-oleh paling laku adalah kaos. Kedua adalah cemilan. Dengan penyatuan, dengan feeling, saya yakin jalan,” ujarnya saat diwawancarai NetTV.

Membuka Pusat Oleh-oleh Krisna Bali

Ajik memikirkan ide untuk membuka sebuah pusat oleh-oleh Bali dengan konsep supermarket yang besar dan nyaman. Selain menjual kaos hasil konveksinya, ia bekerja sama dengan UMKM untuk stok oleh-oleh lain seperti cemilan, cinderamata dan lain sebagainya. Ide itulah awal mula berdirinya pusat oleh-oleh ternama, Krisna Bali.

Ajik mulai mengeksekusi idenya pada tahun 2007. Awalnya, pria kelahiran 1971 tersebut hanya mampu membuka toko di tempat yang kecil. Pusat oleh-oleh berkonsep minimarket Krisna Bali baru terealisasi pada tahun 2008.

“Awalnya 2007 buka pertama, tempatnya kecil 200  meter persegi. Ternyata bagus, Krisna (Bali) dua lebih luas. Mulai naik di 2008. Krisna (Bali) menyatukan konsep pasar lokal dengan mall, maka dibuatlah Krisna oleh-oleh yang modern,” ujar Ajik.

Saat ini, Krisna Bali menjadi pusat oleh-oleh yang sangat terkenal dengan adanya lima gerai di berbagai titik wisata. Siapa pun yang pernah berwisata ke Bali pasti tahu tempat tersebut.

baca juga

    Parkir yang luas, taman yang indah, tempat belanja yang nyaman, ragam oleh-oleh yang lengkap dan kelebihan lain menjadikan Krisna Bali pusat oleh-oleh unggulan dari Pulau Dewata. Tak heran jika Ajik mengantongi omset milyaran rupiah dari bisnis tersebut.

    Saat ditanya kepuasannya atas pencapaian Krisna Bali, Ajik mengaku belum maksimal. Ia ingin lebih banyak membuka lapangan kerja dan mengangkat perekonomian daerah.

    “Peruangan hidup saya dari nol, sekarang ada rezeki lebih. Sehingga saya harus membuka lapangan sebesar-besarnya, karyawan bagaimana, pajak bagaimana, charity tiap bulan harus ada. Saya bisa puas jika masyarakat Bali dan ekonominya menjadi bagus di seluruh kabupaten,” pungkasnya. Dari Tukang Cuci Mobil Menjadi Milyader, Ajik Cok Membangun Krisna Bali

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You May Also Like