Kata keripik Sanjai Balado tentunya sudah tidak asing lagi bagi penikmat keripik di Indonesia. Jika dilihat dari namanya Sanjai Balado, kata Sanjai seperti nama yang berasal dari negara India.

Namun, jangan salah menafsirkan Sanjai Balado adalah nama asli dari Indonesia yaitu berasal dari Padang, Sumatra Barat. Keripik ini cukup mendunia.

Banyak masyarakat Minangkabau yang menggeluti usaha Sanjai Balado ini. Sanjai Balado merupakan produk olahan hasil pertanian sehingga termasuk dalam usaha agrobisnis.




Makanan khas dari Sumatra Barat yang terbuat dari singkong. Keripik Sanjai Balado ini dikenal sebagai oleh-oleh khas Minangkabau yang sudah mendunia tentunya.

Sanjai Balado adalah keripik singkong yang renyah yang diolah sehingga memiliki cita rasa yang pedas, manis, asin, dan gurih. 

Keripik Sanjai Balado ini termasuk dalam makanan ringan yang cukup banyak peminatnya.

Pembuatan keripik sanjay

Sanjai Balado ini biasanya disajikan dengan cara diparut tipis memanjang dan diberi bumbu dengan taburan garam dan cabai pedas.

Keripik Sanjai Balado ini merupakan usaha yang cukup menguntungkan karena peminatnya tidak hanya masyarakat dalam negeri melainkan masyarakat di luar negeri.

Salah satu usaha Sanjai Balado yang sangat termashur di Bukittinggi adalah Sanjai Balado Ummi Aufa Hakim. Sanjai Balado Ummi Aufa Hakim merupakan salah satu Industri Kecil Menengah yang bisa dikatakan berhasil di bidangnya.

Sejarah IKM Sanjai Ummi Aufa Hakim

Usaha Sanjai Balado Ummi Aufa Hakim ini didirikan oleh Lukman El Hakim. Lukman El Hakim adalah anak daerah kelahiran Payakumbuh.

Ia berasal dari keluarga menengah ke bawah, keadaan ekonomi keluarganya membuat ia bekerja keras mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Lukman El Hakim terbiasa bekerja keras sejak ia duduk di bangku SD hingga SMA. Berbagai pekerjaan dijalani oleh Lukman El Hakim demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

” pedasnya bahan alami”

Ia rela berjualan keliling di kampung, sekolah, pasar di Payakumbuh hingga Batusangkar bahkan berjualan dari bus ke bus. Pada awalnya, Lukman El Hakim berjualan sayur, kue dan buah-buahan demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Meski kehidupan keluarganya cukup sulit, Lukman El Hakim tetap melanjutkan kuliah sambil bekerja. Ia pernah bekerja sebagai cleaning service di Hotel The Hills Bukittinggi. Ia bekerja sambil kuliah di STAIN Batusangkar.

Meskipun bekerja sambil kuliah, prestasi Lukman bisa dikatakan tidak memalukan. Kehidupan menyenangkan di bangku kuliah, ia nikmati selama 3 semester. Hal tersebut karena kesulitan ekonomi yang ia alami sehingga ia harus memutuskan untuk berhenti kuliah.

Keputusannya untuk berhenti kuliah, tidak menyurutkan tekadnya untuk menjadi orang yang sukses. Ia memikirkan cara terbaik untuk memulai berwirausaha dengan bermodalkan uang 1 juta rupiah.

Dengan bermodalkan uang 1 juta rupiah, ia memberanikan diri untuk memulai usahanya pada tahun 1999.

Perkembangan  Usaha Sanjai Ummi Aufa Hakim

Tahun 1999 merupakan tahun sejarah bagi Lukman, karena di tahun tersebut ia memulai usaha keripik Sanjainya di rumah kontrakan yang ia sewa.

Dengan bermodalkan uang 1 juta rupiah,  Lukman memulai memproduksi keripik Sanjai Balado. Pada tahap awal, ia memproduksi 300 Kg per bulan dan mempekerjakan 5 tenaga kerja.

Tekad yang kuat untuk menjadi wirausahawan yang sukses mendorong Lukman untuk membuka gerai pertamanya di Ganting Bukittinggi.

Keinginannya itu pun terwujud, ia membuka gerai keripik Sanjai Balado pada tahun 2005. Gerai tersebut diberi nama Sanjai Ummi Aufa Hakim.

Perkembangan usaha yang dirintis Lukman berkembang pesat hingga akhirnya ia mendapat tawaran membuka outlet di Hotel The Hills Bukittinggi.

Tawaran tersebut, ia terima dengan senang hati karena Lukman sangat ingin usahanya berkembang pesat. Pada tahun 2008, ia membuka outlet di Hotel The Hills Bukittinggi.

Usaha Sanjai Balado yang Lukman rintis dengan tekun telah membuahkan hasil dan menjadi buah bibir di masyarakat sekitarnya.

Bahkan banyak wisatawan yang berminat mencicipi keripik Sanjai Balado produksinya. Pada tahun 2011, ia membuka gerai keduanya di Jalan Soekarno Hatta Manggis, Bukittinggi.

Kerja keras Lukman berbuah hasil. Keuntungan yang ia dapat per bulan mencapai ratusan juta rupiah.

IKM Binaan Kemenprin

Usaha Sanjai Balado Lukman sangat diminati oleh masyarakat sekitarnya hingga wisatawan yang datang ke Bukittinggi. Hal tersebut karena rasanya yang enak dan kualitas singkong yang baik.

Perkembangan usaha yang ia rintis berkembang cepat baik dari segi omzet yang didapat dan penyerapan tenaga kerja di sekitarnya.

Perkembangan tersebut membuat Ditjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenprin melirik usahanya.

Ditjen IKM Kemenperin sangat antusias untuk memberikan binaan agar usaha Sanjai Ummi Aufa Hakim berkembang pesat. Pada tahap awal Ditjen IKM Kemenperin menggolongkan keripik Sanjai ini ke dalam IKM Pangan Unggulan.

Pada tahun 2011, Ditjen IKM Kemenperin memberikan pembinaan melalui fasilitas perbaikan desain dan kemasan. Hal tersebut bertujuan agar desain dan kemasan keripik Sanjai Ummi Aufa Hakim lebih menarik, berkualitas dan higienis.Lukman sangat antusia dengan binaan yang diberikan oleh Kemenperin karena untuk perbaikan produknya di masa depan.

Pembinaan yang diberikan Kemenperin tidak hanya berhenti di situ saja, pada tahun 2012 Kemenperin memberikan Program One Village One Product (OVOP). Semakinn banyak pembinaan yang diterima oleh Lukman, ia semakin mantap untuk mengembangkan usahanya.

Perkembangan Usaha yang Menakjubkan

   Pembinaan yang diberikan oleh Ditjen IKM Kemenperin membuahkan hasil yang signifikan hingga membuat Lukman berani membuka gerai ketiga pada tahun 2014. Gerai ketiga Lukman dengan label Sanjai Ummi Aufa Hakim, ia tempatkan di Jalan Sudirman 28 Biruga, Bukittinggi.

Dengan dibukanya gerai ketiga tersebut, Ditjen IKM Kemenperin memberikan binaan untuk meningkatkan mutu produk makanan. Adapun fasilitas yang diberikan adalah bimbingan penerapan dan sertifikasi Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP).

Ilmu yang didapat dari Ditjen IKM Kemenperin, Lukman terapkan dengan baik hingga akhirnya ia mulai menambah varian produk baru. Bimbingan mutu produk yang ia dapat, ia gunakan sebaik-baiknya untuk mengembangkan usahanya.

Dari yang semula ada 10 jenis makanan ringan, ia kembangkan menjadi 300 jenis produk makanan ringan. Gerai Lukman saat ini tidak hanya menjual keripik Sanjai Balado saja melainkan juga menjual makanan ringan lainnya, seperti keripik paru, sagu, manisan, dodol dan makanan ringin lainnya dengan menggunakan label Ummi Aufa Hakim. Alhasil, Lukman dapat menyerap tenaga kerja lokal mencapai 95 orang pekerja lokal.

Pencapaian Omzet yang Menakjubkan hingga 600 Juta Rupiah per Bulan

Lukman pun mulai membuka gerai keempat. Gerai keempat ini bertujuan untuk merambah target pasar di kota Padang, tepatnya di Jalan Veteran 58 Padang. Dengan dibukanya gerai keempat ini, jumlah produksi Sanjai Balado Ummi Aufa Hakim pun bertambah dari yang semula 300 Kg singkong per bulan menjadi 300 ton singkong per bulan.

Keberhasilan tersebut membuat usaha Lukman mengantongi sertifikat HACCP. Saat ini, para pecinta keripik Sanjai Balado Ummi Aufa Hakim dapat membeli makanan ringan tersebut di gerai yang berada di provinsi Riau, Jambi, Sumsel maupun DKI Jakarta. Keberhasilan tersebut membuat Lukman berbagi ilmu dengan mitra IKM Pangan lainnya. Kesempatan tersebut tidak dilewatkan begitu saja, ia pun menitipkan produk dengan label usahanya ke berbagai gerai.

baca juga

    Kerja keras Lukman membuahkan hasil yang menakjubkan, saat ini mitra bisnisnya mencapai 100 dan mampu menyerap lebih dari seratus ribu tenaga kerja. Omzet yang telah dicapai hingga 600 juta rupiah. Keberhasilan tersebut didapat dari hasil kemitraan yang baik antara Lukman, petani singkong dan pemilik gerai lainnya yang ia titipi produknya.

    Kesuksesan usaha Sanjai Ummi Aufa Hakim merupakan sinergi yang baik. Saat ini, Lukman telah bermitra dengan 20 petani singkong di daerah Payakumbuh dan Padang Pariaman. Usaha Lukman juga telah berhasil mendapatkan penghargaan dari Kemenperin. Adapun penghargaan yang telah diperoleh adalah sebagai berikut.

    1. Pada tahun 2013, memperoleh penghargaan Mahakarya dari Kemenkop UMKM atas produktivitasnya.
    2. Pada tahun 2014, memperoleh penghargaan Kreasi Prima Mutu berkenaan dengan Gugus Kendali Mutu (GKM).
    3. Pada tahun 2015, memperoleh OVOP Bintang 4 dari Kemenperin.

    You May Also Like