Industri Properti Indonesia Melawan Virus Covid19

https://www.bandungadvertiser.com/ Sebagaimana yang telah kita bahas pada artikel sebelumnya, virus Covid19 tidak hanya menyerang sektor kesehatan masyarakat Indonesia tetapi juga ekonomi negeri ini. Industri pariwisata adalah salah satu industri paling terdampak virus ini. Termasuk dalam cakupan industri ini adalah industri perhotelan.

Selain industri pariwisata, industri properti juga merupakan sektor industri yang paling terdampak virus ini. Terutama sektor industri real estate yang notabene memiliki pangsa pasar menengah keatas dan banyak menggunakan bahan baku impor. Sehingga tidak mengherankan apabila pada paruh awal tahun 2020, banyak pelaku industri ini yang membukukan kerugian. Bahkan pemain senior di dalam industri ini seperti PT. Pudjiadi Prestige Tbk juga mencatat kerugian sebesar 4 sampai 11 milyar rupiah sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya.

Artikel ini akan merangkum beberapa studi untuk anda mengenai bagaimana industri properti secara keseluruhan mengalami masa masa yang sulit akibat Covid19. Tujuannya adalah agar anda meyakini bahwa penurunan performa saham atau pelayanan di beberapa perusahaan properti saat ini tidak disebabkan oleh ketidak mampuan pembangun properti tersebut untuk mmberikan layanan terbaik tetapi lebih kepada kondisi riil sosial ekonomi yang sedang tidak menguntungkan.

Dampak  Covid19 terhadap pasokan dan penawaran properti di Indonesia

Menurut penelitian dari CBC Indonesia (2020)[i] dan Cushman & Wakefield [ii](2020), pada bulan bulan awal tahun 2020 seperti bulan Januari dan Februari, pasar properti di Indonesia masih beroperasi sebagaimana biasanya dan tidak terpengaruh dengan isu penyebaran virus ini di luar negeri. Baru kemudian pada akhir maret, setelah diumumkannya kasus kasus positif di Indonesia dan beberapa kebijakan pembatasan sosial, permintaan  properti di pasar Indonesia menurun secara bertahap.

Tidak hanya dari sektor permintaan sebenarnya, sektor penawaran properti pun menurun. Mengingat banyak properti terutama properti untuk konsumen dari kalangan menengah keatas yang memiliki bahan baku impor dan didanai oleh pinjaman Bank.

Menurut penelitian dari Angrei (2020) sebagaimana yang dipublikasikan oleh CBC Indonesia pada tanggal 21 September 2020, permintaan properti komersial seperti apartemen dan hotel di Jakarta menurun masing masing sebesar -36.1% dan -34% dari kuartal pertama tahun 2020. Sedangkan di Bodebek (Bogor, Depok, Bekasi) turun sebesar -100% dan -29,6% pada periode waktu yang sama. Untuk lebih lengkapnya anda bisa melihat tabel dibawah ini:

KotaApartemenHotel[1]Retail
Jakarta(-36,1%)(-34,0%)(-969,6%)
Bodebek(-46,3%)(-29,6%)(-3,107,5%)
Tangerang(-18,6%)(-34,4%)(-826,6%)
Surabaya(-32,0%)(-37,8%)(-191,1%)
Bandung(-90,2%)(-41,8%)(-3642,3%)
Medan(-100%)(-33,4%)(-1795,2%)
Semarang(-100%)(-32,8%)(-1238,4%)
Batam(-100%)(-29,8%)(-274,8%)
Makassar(-19%)(-30,7%)(-331,8%)
Balikpapan(-27,9%)(-100%)
Bali(-100%)(-44,0%)(-251,3%)
Palembang(-34,3%)

Tabel 1: Penurunan permintaan properti di Indonesia pada kuartal kedua tahun 2020.

 (Sumber: CBC.com)

Penurunan permintaan ini secara tidak langsung  juga memperlambat kenaikan harga properti di Indonesia. Masih menurut publikasi yang sama pada kuartal kedua tahun 2020, harga properti di Indonesia hanya naik sebesar 0,1% hingga 0,5% untuk properti jenis apartemen.

Sedangkan untuk perhotelan, harga cenderung turun bahkan hingga 20% dibawah harga normal saat low season akibat Covid19. Ini merupakan penurunan harga dan occupancy rate terendah sepanjang sejarah perhotelan Indonesia pada sepuluh tahun terakhir. Padahal industri perhotelan masih merupakan bagian dari industri pariwisata yang sedang gencar gencarnya di pormosikan oleh pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Proyeksi industri properti pasca Covid19

Tidak ada yang tahu kapan masa pandemi ini akan beraakhir. Mengingat peningkatan jumlah penderita Covid19 di Indonesia sendiri terus bertambah di angka 3000 jiwa setiap harinya.

Namun demikian banyak yang beranggapan bahwa meskipun tengah diterpa pandemi Covid19, industri properti khususnya properti untuk konsumen kalangan menengah kebawah masih memiliki permintaan yang kuat. Hal ini disebabkan Indonesia memiliki banyak generasi muda yang membutuhkan hunian di masa depan. Oleh karena itu banyak penelitian menganjurkan pengembang property untuk lebih fokus kepada konsumen jenis ini sepanjang masa pandemi Covid19 dan masa pemulihan dari pandemi tersebut.

Selain itu, peneliti juga menyarankan agar pengembang (developer) lebih mengembangkan pemasaran secara digital. Pemasaran secara digital ini selain dilakukan untuk promosi selama masa pandemi juga dapat membuat developer lebih dekat dengan pangsa pasar milenial. Sebab generasi milenial dikenal sebagai pengguna media sosial dan internet yang aktif.

Saat ini, untuk menjaga perusahaan agar tetap dalam kondisi sehat, PT. Pudjiadi Prestige Tbk juga menjalankan pemasaran digital dengan lebih intensif. Jika anda tertarik untuk tinggal di salah satu apartemen milik perusahaan ini seperti Azalea serviced apartment suites atau yang lain, anda bisa menghubungi pihak apartemen terkait untuk melangsungkan virtual tour. Di samping virtual tour, anda juga bisa menilik apartemen impian anda melalui kanal youtube resmi PT. Pudjiadi Prestige Tbk.

Sayangnya, saat ini belum ada promosi digital dalam bentuk Vlog yang dapat diakses dengan bebas oleh masyarakat umum. Sehingga belum ada informasi tentang detil detil ruangan yang dapat disaksikan dalam format video. Padahal promosi dalam bentuk video seperti ini akan sangat berguna untuk mendekati generasi muda terutama generasi muda yang tertarik untuk menyewa apartemen secara harian.

Selain memasarkan properti melalui platform digital, PT. Pudjiadi Prestige Tbk juga memiliki kompleks perumahan yang ditujukan untuk pangsa pasar menengah kebawah. Saat ini proyek tersebut tinggal membangun dan menjual kurang lebih 500 unit rumah dari 2000 rumah yang direncanakan. Sehingga meskipun dalam kondisi yang susah seperti saat ini, perusahaan yang kini berusia 30 tahun tersebut terbukti mampu beradaptasi dengan baik.

baca juga

Pandemi Covid19 secara tidak langsung menjadi momentum bagi para pelaku industri properti untuk mendefinisikan ulang mengenai tata cara operasi mereka selama ini. Bisa jadi kedepannya metode operasi yang baru ini akan tetap diaplikasikan sebagai bentuk adaptasi pengusaha properti terhadap perkembangan teknologi.


[1] Data permintaan hotel diperoleh dari nilai occupancy rate


[i] http://www.cbcindonesia.com/research/26/pasar-properti-indonesia-di-tengah-pandemi-covid-19.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You cannot copy content of this page