Cucuk Espe Sukses Dengan Manajemen Teater Ala Anak Band

Categories: Bandung UPDATE

bandungadvertiser.com – Mungkin Anda tersenyum membaca judul tulisan ini. Apalagi Anda yang dekat atau malah terlihat dalam aktivitas kesenian, khususnya teater. Bagaimana meramu manajemen teater –yang terkenal rumit—dengan pola ‘anak band’?

 

Hingga saat ini, memang belum ada patokan atau pakem manajemen kesenian, khususnya teater. Bahkan teater besar sekelas Teater Koma yang digawangi N. Riantiarno pun harus jatuh bangun menegakkan komunitas teaternya. Beruntung, Teater Koma berani membuat terobosan dengan teknik membina penonton. Sehingga, layaknya supporter sepak bola, teater yang berjaya di era 70an tersebut selalu diikuti penonton binaannya.

Di Bandung, era yang sama muncul Suyatna Anirun dengan komunitas Studi Kub Teater Bandung (STB)-nya yang cukup dikenal publik waktu itu. Beruntunng, karena Kang Yatna –begitu panggilan akrabnya—dekat dengan kalangan kampus, terutama Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, maka mayoritas penontongnya pun mahasiswa. Me-manage mahasiswa yang homogen secara sosial, tidak terlalu sulit.

cucuk espe dan teater kopi hitam

Barulah tantangan hebat ditemukan di paruh pertama era 2000an. Dimana perkembangan atau dinamikla sosial semakin chaos, maka teater pun terkena imbasnya. Hampir-hampir, teater umum (baca: non kampus) yang bertahan dapat dihitung dengan jari. Lainnya, perlahan tetapi pasti akan mati atau ditinggalkan penghuninya. Kalau begitu, pertanyaan logisnya; apakah teater tidak menjanjikan?

Cukup sulit menjawab pertanyaan ini. Disaat hampir kelompok teater modern non kampus bergelimpangan, di ujung timur Jawa, muncul Teater Kopi Hitam Indonesia (TKHI) yang mengusung pola manajemen unik. Teater yang digawangi Cucuk Espe ini memilih meng-kini-kan manajemennnya, yakni dengan bercermin pada manajemen ‘anak band’. Kita ketahui, meskipun banyak kelompok band bermunculan, namun masing-masing seolah memiliki daya tahan dan daya saing. Realitas inilah yang menginspirasi para anggota Teater Kopi Hitam Indonesia yang memilih Kota Jombang, Jawa Timur sebagai tempat workshop pementasannya.

cucuk espe dan teater kopi hitam

Teater dan Seni Menjual

Setiap karya pentas dapat dianalogikan sebagai album baru. Oleh karena itu, cara membawa atau meng-endorse kepada publik harus dilakukan dengan cermat. Jika boleh melakukan otokritik, kekeliruan teater masakini adalah memandang lakon teater yang diproduksinya sebagai ‘barang seni yang sulit dimengerti’. Bagi Teater Kopi Hitam, apapun tema yang diusung, haruslah tetap menjadi ‘teater yang dimengerti.

Teater yang berdiri sejak tahun 2010 itu, telah mengangkat banyak lakon karya Cucuk Espe dan berkeliling di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Kini lakon-lakon yang di-introdusir teater yang bergenre realis ini banyak dipentaskan kelompok-kelompok teater Tanah Air lainnya.

Teater itu berurusan dengan seni menjual! Itulah basic manajemen teater ini. Bagaimana cara menjual sebuah pementasan, itulah dasar keberhasilan sebuah lakon. Tiket berapapun jika setrategi seni menjual ini dulakukan dengan tepat, maka kursi penonton akan sold out. Berikut ini, sejumlah konsep seni menjual ‘ala anak band’ yang dilakukan Teater Kopi Hitam Indonesia.

Baca Tentang CUCUK ESPE

  1. Riset Market. Teater membutuhkan riset –meski dilakukan dengan cara sederhana—pasar atau calon penontonnya. Tidak asal menggelontorkan gagasan akhirnya sepi penonton. Bahkan dari riset inilah, akhirnya ditemukan lakon yang sesuai atau marketable.
  2. Menentukan segmen market. Siapa yang akan menonton pertunjukkan nanti? Pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pengusaha, atau profesional lainnya. Teater Kopi Hitam Indonesia tidak gegabah menggelar pementasan tanpa mengetahui / memprediksi calon penontonnya.
  3. Inovasi promosi. Kebanyakan kelompok teater melakukan promosi pementasannya secara konvensional. Misalnya membuat selebaran atau pamflet dan dipasang di papan=papan pengumuman sekolah atau kampus. Pola itu sudah usang! Teater Kopi Hitam selalu melakukan ‘pra pentas’ dibarengi dengan jumpa pers dan ‘launching lakon’. Inovasi promosi ini yang jarang dilakukan kelompok teater lainnya. Ibarat sebuah band yang launching album maka perlu dilakukan launching lakon. Bentuk launching lakon dapat berupa pembacaan sinopsis, petikan adegan, atau baca puisi seputar tema pementasa, Tempatnya bisa di café atau ruang publik lainnya.
  4. Push on Social Media. Setrategi inilah yang tidak dimiliki teater era 70an. Karena perkembangan jaman, maka sosial media menjadi ruang ampuh untuk menciptakan brand. Ingat! Sebuah pementasan ibarat band dari kelompok yang mementaskannya. Sebuah sebelum pementasan, agar menjadi trending topic atau duduk di tangga pertama (jika charts lagu) maka wacana di sosial media harus teruis dilakukan hingga menjelang hari pementasan.
  5. Reviews by Moment. Artinya, pasca pementasan, Teater Kopi Hitam akan selalu mereview dan mengulas pernik pementasan yang telah dilakukan. Ternyata, dengan review ini akan mengundang penasaran publik untuk terus mengikuti pementasan berikutnya.

baca juga :

  1. “Bandung Hantam Hoax” Campaign To Be A Smart User
  2. Yuk, Wisata Religi ke Masjid Keren di Bandung
  3. Wisata Seni di Taman Budaya Dago Tea House
  4. Wisata Sejarah di Kota Bandung

Nah! Lima hal tersebut yang membuat Teater Kopi Hitam Indonesia tetap bertahan bahkan  tidak tabu jika harus menggelar pementasan di café atau lobi hotel layaknya konser. Terobosan manajemen teater harus terus dilakukan. Dan teater yang dikomandani Cucuk Espe ini terus menggeliat mengkolaborasikan kehadirannya dengan kemajuan jaman. Dengan demikian, teater bahkan seniman teater (aktor, sutradara, dan lainya) akan dianggap ‘personel band’ yang selalu ditunggu kehadiran estetiknya.

Begitulah cara Teater Kopi Hitam Indonesia mewarnai jagad kesenian di negeri ini.***

tulisan original oleh cucuk espe tokoh budaya