4 Pertanda Brand Harus Melakukan Re-Branding

By:
Categories: Bisnis dan SEO
No Comments
jasa seo dan internet marketing

bandungadvertiser.com – Apa yang ada di benakmu ketika mendengar merek ‘Coca-Cola’? Mungkin ada dari kita yang langsung menggambarkan raksasa minuman soda. Sebagian lagi mungkin terlintas iklan-iklannya yang menggambarkan keceriaan.

Ada pula yang mungkin membayangkan minuman yang kaya kalori. Itulah yang disebut brand image. Sejauh ini dalam dunia marketing brand image adalah yang terpenting karena jika hal negatif yang ada di benak konsumen ketika memikirkan sebuah perusahaan atau merek, maka konsumen jelas enggak akan tertarik dengan penawaran perusahaan atau merek tersebut. Begitu pula sebaliknya.

Brand image adalah hasil dari pengalaman konsumen sebelumnya dengan merek atau perusahaan yang bersangkutan. Jadi, jika menginginkan brand image yang kuat dan menumbuhkan brand equity, merek atau perusahaan harus berupaya menciptakan pengalaman konsumen yang baik. Sayangnya, ada kalanya merek melakukan kesalahan sehingga menciptakan pengalaman konsumen yang tak menyenangkan. Perlu diingat, satu kesalahan dari sepuluh kebaikan yang merek lakukan, konsumen mungkin akan lebih mengingat satu kesalahan tersebut.

 

Jika hal itu terjadi, untuk bertahan merek harus melakukan re-branding atau mengubah elemen brand (typografi, logo, warna merek) dan menciptakan brand image baru untuk meningkatkan nilai merek. Kapan merek harus melakukan re-branding? Ini empat pertanda saatnya merek melakukan re-branding:

1.Pemicu negatif yang enggak diharapkan

 

Sebuah kejadian di luar kendali kita bisa mengubah pemicu elemen brand sehingga konsumen mengasosiasikannya dengan sesuatu yang berbeda dan negatif. Contoh fenomenal kejadian ini adalah permen diet bermerek Ayds yang mengalami penurunan drastis penjualan ketika penyakit AIDS merebak menjadi krisis pada tahun 80an. Ya, elemen brand berupa pengucapan merek permen ini selintas mirip pengucapan kata ‘AIDS’. Perusahaan berusaha melakukan re-branding untuk produknya tapi sayang asosiasi negatif terlanjur terpupuk subur dalam benak konsumen dan produk pun akhirnya ditarik dari pasaran. Memang elemen brand Ayds seharusnya benar-benar ditinggalkan dengan mengganti merek yang benar-benar baru.

2.Skandal yang sangat di-blow up

Jika perusahaan melakukan kekacauan dan sangat terlihat sehingga konsumen selamanya mengasosiasikan skandal tersebut dengan elemen brand, maka re-branding elemen brand menjadi satu-satunya cara untuk bertahan. Misalnya, ketika perusahaan akunting Arthur Andersen ditutup lantaran kesalahan dalam mengaudit Enron, Ia pun mengubah nama merek layanan bisnisnya menjadi Accenture.

4 Pertanda Brand Harus Melakukan Re-Branding

3.Produk atau layanan tak sesuai

Jika perusahaan kita berekspansi ke kategori produk baru dan elemen brand terikat pada produk sebelumnya, mungkin kita mau menggantinya untuk menyesuaikan dengan penawaran yang baru. Salah satu contohnya adalah merek ‘Bath & Beyond’ yang sebelumnya adalah ‘Bed ‘n Bath’.

Baca Juga “Bandung Hantam Hoax” Campaign To Be A Smart User

4.Tampilan dan rasa yang kuno

Eleme brand, seperti arsitektur, musik dan fashion secara kultural mengakar pada dekade di mana mereka diciptakan. Pada era tertentu gaya retro mungkin terlihat keren, desain yang memiliki nuansa tahun 80an, 90an dan 2000an mungkin terlihat funky dan kaku. Mungkin konsumen kita enggak terlalu peduli, tapi mungkin kita mempertimbangkan untuk me-re-branding elemen brand. Cara yang lebih murah adalah dengan menunggu era tertentu berakhir

Dengan pengecualian tersebut, umumnya re-branding hanyalah perkerjaan kelompok marketing supaya mereka tetap sibuk. Contoh baik untuk ini adalah percobaan aneh untuk me-re-brand Google sebagai alfabet atau Tesla Motors menjadi Tesla. Keduanya bukan re-branding yang signifikan.

Bagaimanapun cara merek tetap bertahan dan cemerlang, sebisa mungkin hindari re-branding. Lakukan segala upaya untuk memelihara brand image yang baik. Upaya re-branding hanyalah cara terakhir bagi para pemasar yang malas.

 

jasa seo dan internet marketing